Sabtu, 18 Maret 2017

Bukan Sekedar Ilusi


Air terasa menyejukkan jiwaku saat aku membasuhkannya ke wajahku. Hari ini aku berusaha bangun pagi - pagi sekali untuk bersiap - siap pergi ke sekolah baruku. Ya, aku merupakan anak pindahan dari provinsi seberang karena ayahku yang dipindahtugaskan.

"Shila, ayo sarapan!" panggil mama dengan keras dan membuatku agak kaget.

Aku segera keluar dari kamar. Langkah kakiku dengan lincah menuruni tangga yang berbelok - belok. Setelah sampai di ruang makan, aku segera menyambar roti yang telah disiapkan oleh mama. Dengan cepat aku menghabiskannya dan bergegas berangkat ke sekolah baruku.

"Hati - hati di jalan, Shila" kata mama.

"Oke, Ma. Doa'in Shila ya"

"Huh, kayak mau ngapain aja kamu"

"Heh. Bercanda ma. Yaudah Shila brangkat dulu. Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam"

Aku segera menaiki mobil yang telah dipanasi dan mobil itu segera meluncur ke jalan raya menuju sekolah baruku.


***

Langkah kecil mengantarku melewati berbagai lorong di dalam sekolah. Mataku terus berputar - putar mencari letak kelas 8E. Setelah lama mencari, aku menemukan papan kecil diatas pintu bertuliskan 8E. Aku segera memasuki kelas dan tak sengaja....

BRUK!!

Aku menabrak seseorang hingga buku yang berada dalam peganganku melesat jatuh dengan sempurna. Aku segera memungut buku - bukuku dan minta maaf kepada orang yang aku tabrak tadi.

"Eh, maaf ya. Aku nggak sengaja"

"Iya, aku bantuin ya" jawab seseorang yang aku tabrak bonus dengan senyuman manis di wajahnya.

"Makasih."

Aku meninggalkan orang yang aku tabrak tadi, setelah minta maaf kepadanya. Aku segera melanjutkan langkahku menuju ke dalam kelas baru yang amat asing bagiku.
Tak lama, bel berbunyi. Aku sudah siap memperkenalkan diri. Sebelumnya, aku duduk disamping seorang cewek gendut yang tak aku kenal.

Selang beberapa menit, gurupun memasuki kelas dan bersiap memanggilku untuk memperkenalkan diri. Aku maju ke depan kelas dengan langkah semangat. Aku dengan cepat dan tegas melontarkan kalimat - kalimat perkenalan.

***

Semilir angin mengibarkan rambut panjangku yang terurai tanpa ikat rambut. Angin itu melewati hidung dan masuk ke paru - paru. Setidaknya, aku masih bisa bernafas sampai sekarang ini.

Ku hempaskan tubuh ringanku yang amat lelah di atas kasur empuk. Aku langsung menyalakan laptop dan menuliskan sisa - sisa alur cerita yang ada di pikiranku.

Aku mulai menyelesaikan cerpen yang akan aku kirim ke sebuah majalah. Dan semoga, kau akan membaca majalah itu. Hanya itu harapan terbesarku. Tidak usah muluk - muluk, semua itu tidak sulit. Kisah ini mengisahkan keadaanku sekarang, kesedihan, keputus-asaan. Kesedihan karena aku harus meninggalkanmu di sana, keputus-asaan karena aku ikut pindah ke sini, meninggalkanmu sendiri.

Hei! Aku ingat sesuatu! Seruku di dalam hati yang kuiringi dengan senyum mengembang. Aku langsung berdiri dari tempat tidur dan membuka kotak berwarna ungu muda yang ada dalam laci, aku masih ingat kotak ini adalah barang terakhir pemberianmu. Aku menemukan sebuah kertas dengan tulisan tangan indahmu.

"Sampai kapanpun aku berfikir tentang pemberhentian waktuAku tak akan mendapatkan jawabannyaKarena waktu tak punya titik hentiSampai suatu saat nantiWaktu akan terus bergulirDan akan berhenti suatu saat nantiKetika Tuhan memberhentikannyaSama seperti aku, dan kau..Sampai kapanpun kau berusaha mengetahui pemberhentian cintakuTak akan ada jawaban, hanya kelelahanKarena kasihku ibaratkan waktuTak punya titik henti, Bukan sekedar ilusi"

Kembali, bayanganmu memenuhi otakku yang sudah penuh sesak dengan masalah akhir - akhir ini. Aku segera menyingkirkannya dan kembali menatap layar laptop dengan mata sedikit berkaca - kaca.

Aku segera mematikan laptopku dan beranjak dari tempat tidur. Kakiku menuntunku ke arah balkon.

***

"Ke kantin yuk!" ajak seseorang yang berdiri di belakangku. sekiranya aku sudah pernah mendengar suaranya. Namun, aku pun juga tak tahu pasti. Aku menoleh melihat siapa yang mengajakku, dan ternyata dia adalah anak yang saat itu pernah menabrakku.

Aku mengabaikannya, berpura - pura sibuk dengan kegiatanku sendiri.

"Oh, Yaudah kalau nggak mau" katanya seraya membalikkan badan menuju ke luar kelas.

"Bukannya aku nggak mau, tapi aku takut. Hal ini hampir sama dengan kejadian saat pertama kali dekat dengannya. Dia, penulis puisi terindah untukku"

Lalu, aku beranjak pergi dari pandangannya.

Oleh : Salma
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

Tidak ada komentar